Harga Tiket: Rp 5.000, Jam Operasional: Pukul 08.00–16.00 WIB, Alamat: Jl. Ps. Ikan No.1, Penjaringan, Kec. Penjaringan, Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta; Map: Cek Lokasi

Museum Bahari Jakarta berlokasi di kawasan Sunda Kelapa tua, persisnya di Kecamatan Penjaringan. Dahulu, bangunan ini dimiliki oleh pemerintah Hindia Belanda, tetapi kini bertransformasi menjadi sarana informasi dan edukasi mengenai kemaritiman di Indonesia dan implikasinya terhadap perekonomian negara.

Bangunan ini sudah berdiri sangat lama dan kondisinya tetap terjaga. Mencerminkan jejak sejarah dunia maritim dalam beberapa masa, mulai dari zaman kerajaan, masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia, penjajahan, hingga era modern. Tak heran, koleksinya menyentuh angka 126 dengan berbagai jenis peralatan kemaritiman.

Namun demikian, museum ini kurang diminati oleh khalayak. Mayoritas yang berkunjung ke sini justru wisatawan internasional, bukan penduduk lokal. Terlebih lagi, pada Januari 2018 silam terjadi kebakaran yang menghanguskan Gedung A dan B blok 1-2 milik sehingga koleksi miniatur para pelaut ternama, alat navigasi, dan perahu tidak bisa lagi Anda temukan di sini.

Sejarah Museum Bahari Jakarta

Sejarah Museum Bahari Jakarta
Image Credit: Instagram Hendy Chen

Museum Bahari ini berdiri di atas kompleks bekas salah satu gudang pemerintah Hindia Belanda, persis di sampingnya membentang Sungai Ciliwung. Bagian paling tua dari museum didirikan pada masa jabatan Gubernur Christoffel van Swoll.

Ada dua bagian utama bangunan ini, yakni sisi barat yang dinamakan Westzidsche Pakhuizen di mana proses pembuatannya berlangsung dari tahun 1682 sampai 1771. Kemudian, kompleks sebelah timur atau dinamakan Oostzijdsche Pakhuizen.

Pada gudang sebelah barat terdapat empat bangunan lagi, di mana pada masa silam sempat dipakai untuk mengamankan aneka rempah seperti kayu putih, kayu manis, cengkeh, lada, tembakau, pala, hingga kopra. Biasanya, barang-barang tersebut akan diteruskan ke pelabuhan Eropa dan Asia untuk diperdagangkan.

Memasuki akhir abad ke-17, sejumlah bangunan kembali didirikan untuk memperlebar jarak antara lokasi gudang dan tembok kota. Proses renovasi ini dapat Anda temukan jejaknya di beberapa pintu museum. Diduga tanggal tersebut merupakan waktu terjadinya perluasan, penambahan, atau perbaikan.

Tak hanya itu, di antara tembok kota dan kompleks gudang, tepatnya di depan museum dahulu digunakan Belanda untuk menyimpan timah dan tembaga. Ada pula pelindung kayu tebal yang terpasang di bagian depan gudang dan berfungsi untuk mengamankan logam dari terpaan badai laut tropis, serangan serangga, hingga air hujan.

Selain pelindung, gudang dirancang sedemikian rupa agar sirkulasi udaranya cukup sehingga barang-barang dan rempah yang tersimpan di dalamnya akan tetap bagus. Tak heran, suasana di sini terasa cenderung sejuk saat beralih menjadi museum.

Pada dasarnya, Belanda pada saat itu menjaga ketat kompleks gudang hingga membuat setidaknya 23 benteng sebagai perlindungan. Sayangnya, sekarang hanya tersisa dua benteng yang merupakan bekas tembok keliling di Batavia kala itu, masing-masing bernama Culemborg dan Zeeburg.

Kemudian, tak jauh dari Museum Bahari Jakarta terdapat Menara Syahbandar, yang dulu dipakai sebagai menara pengawas sejak tahun 1839. Namun, menara ini kehilangan fungsinya sejak Pelabuhan Tanjung Priok dibuka tahun 1886.

Singkat cerita, ketika Perang Dunia Kedua Meletus, Belanda mengalami kekalahan dan Indonesia berganti era menjadi di bawah penjajahan Jepang sejak tahun 1942. Kompleks gudang pun beralih fungsi sebagai tempat penyimpanan logistik.

Namun saat Indonesia berhasil meraih kemerdekaan, kawasan itu kembali berganti fungsi menjadi lokasi PTT dan PLN. Memasuki tahun 1976, kemudian dideklarasikan sebagai properti budaya. Setelah itu, bangunan ini diresmikan menjadi museum pada masa orde baru di bawah pengawasan Gubernur Ali Sadikin, persisnya tanggal 7 Juli 1977.

Koleksi Museum Bahari

Koleksi Museum Bahari
Image Credit: Google Maps Museum Kebaharian Jakarta

1. Ruang Pelabuhan Jakarta Era 1800 Sampai 2000-an

Secara garis besar, Museum Bahari Jakarta terbagi atas beberapa kategori ruangan, dan Ruang Pelabuhan Jakarta era 1800-2000 adalah salah satunya. Di sini, Anda bisa menemukan aneka koleksi artefak bersejarah terkait dengan pelabuhan di Jakarta. Tak hanya itu, Anda pun bisa menemukan benteng, keramik, serta Meriam.

2. Ruang Navigasi

Tempat untuk melihat peralatan navigasi ketika berlayar. Beberapa di antaranya ada kompas, teleskop, dan aneka alat bantu lainnya. Pengunjung yang tertarik dengan perkapalan sangat disarankan mampir ke ruangan ini untuk belajar sejarahnya atau sekadar melihat-lihat.

3. Ruang Masyarakat Nelayan

Di sini, Anda akan berhadapan dengan peralatan para nelayan tempo dulu dan sejumlah miniatur kapal tradisional. Bahkan bagi orang awam di dunia maritim sekalipun, tempat ini bagus untuk digunakan sekadar berfoto ria.

Koleksi di Museum Bahari
Image Credit: Google Maps Adolf Manurung

4. Ruang Teknologi Penangkapan Ikan

Beberapa peralatan pendukung untuk menangkap ikan pada masa itu antara lain jaring, pancing, dan bubu. Meski dunia sudah modern, tetapi alat-alat tradisional sejenis ini masih kerap dipakai oleh nelayan di pedesaan.

5. Ruang Biota Laut

Tempat pihak pengelola Museum Bahari memamerkan berbagai jenis biota laut seperti dugong, tanaman laut, hingga kerang dan ikan. Tempat ini cocok bagi para penyuka kehidupan bawah laut.

Sebenarnya masih banyak koleksi di museum ini, tetapi secara umum menyajikan sejarah kemaritiman dari masa ke masa. Anda bisa datang langsung ke lokasi jika ingin mengetahuinya lebih lanjut.

Alamat dan Rute Menuju Lokasi

Alamat Museum Bahari
Image Credit: Facebook Undygýyann

Cukup mudah rute yang harus Anda tempuh agar bisa menjelajah di Museum Bahari Jakarta dan didukung pula oleh banyaknya kendaraan umum di ibu kota negara ini. Berlokasi di Jalan Pasar Ikan 1, Anda bisa datang kapan pun kecuali hari Senin.

Pastikan pula untuk datang di antara pukul 09.00 sampai 16.00 WIB. Tempat ini masih berada di bilangan Kota Tua tepatnya di Sunda Kelapa. Jika Anda seorang pendatang dan bukan penduduk asli Jakarta, sebaiknya bersiaplah menghadapi kemacetan di perjalanan.

Harga Tiket Masuk Wisata Museum

Harga Tiket Museum Bahari
Image Credit: Google Maps Jakarta Tourism

Untuk bisa masuk ke museum ini, Anda perlu membayar biaya retribusi tiket masuk sebesar Rp 5.000. Selain itu, diberlakukan pula sewa parkir per kendaraan, mobil senilai Rp 10.000 dan motor Rp 5.000.

Bisa dibilang Museum Bahari ini merupakan destinasi wisata bertarif murah di bilangan Jakarta. Jadi, jika Anda ingin wisata murah meriah, jangan ragu kunjungi museum unik di Jakarta ini.

Aktivitas yang Menarik Dilakukan Pengunjung

Aktivitas Menarik Museum Bahari
Image Credit: Google Maps Christian Putra

1. Mengelilingi Setiap Ruangan Museum

Ada tujuh ruangan per kategori di Museum Bahari Jakarta. Pertama, ruang pameran peralatan nelayan. Selanjutnya, ruang pamer teknologi untuk menangkap ikan, misalnya pancing, jaring, dan bubu. Ada pula ruangan berisi simulasi pembuatan kapal tradisional.

Tak hanya itu, di sini Anda pun bisa mengamati aneka tumbuhan dan hewan laut seperti kerang dan dugong. Selanjutnya, pihak pengelola juga memamerkan Pelabuhan Jakarta era 1800 sampai 2000-an, termasuk di antaranya Meriam dan benteng pertahanan.

Masih ada lagi ruang navigasi dengan dilengkapi berbagai macam alat bantu seperti teropong, teleskop, peta, serta kompas. Terakhir, ruangan yang menampilkan perjalanan kapal uap tempo dulu.

Dengan semua ruangan pameran tersebut, pastikan untuk menyempatkan diri mengelilinginya. Jika tidak memiliki cukup waktu, pilihlah beberapa di antara yang paling menarik minat Anda.

2. Mempelajari Sejarah Maritim Indonesia

Biasanya, pihak pengelola tidak hanya memamerkan bagian koleksinya, tetapi juga menyediakan informasi relevan bagi pengunjung. Jika datang ke sini, jangan lewatkan kesempatan mempelajari informasi yang sudah tersedia agar wawasan Anda semakin bertambah banyak.

Cukup menarik untuk mengetahui bagaimana proses kejayaan maritim di Indonesia dalam setiap masa. Pasalnya, Nusantara dahulu sempat berjaya karena kekayaan lautnya.

3. Berburu Foto

Ada lebih dari 100 koleksi di Museum Bahari jika ditotalkan secara keseluruhan. Pasti menyenangkan saat Anda bisa mengumpulkan foto-foto koleksi tersebut, terutama bagi para pecinta sejarah maritim.

Hanya saja, berhati-hatilah saat mengambil gambar jangan sampai tanpa sengaja merusak benda-benda berharga tersebut. Ada baiknya untuk tidak menyentuh secara langsung agar lebih aman. Jangan sampai jalan-jalan yang mulanya bertujuan refreshing malah membuat Anda kena denda karena merusak koleksi museum.

Aktivitas di Museum Bahari
Image Credit: Google Maps Nurul Huda

4. Melihat Sudut Lain Kota Jakarta

Jakarta yang panas, riuh, penuh polusi akan menampilkan sisi lainnya di tempat ini. Dengan udara yang relatif sejuk, Anda bisa sedikit bernapas lega dan menjauh dari keriuhan ibu kota.

Sebaiknya datanglah saat sore atau pagi hari jika memungkinkan, di saat suasananya benar-benar sepi. Nikmati waktu-waktu Anda mengamati berbagai macam koleksi dan jejak di dunia maritim Indonesia.

5. Menyusuri Kawasan Kota Tua

Museum ini masih berada di bilangan Kota Tua Jakarta. Anda bisa berjalan-jalan sambil merasakan atmosfer Batavia pada masa lampau. Biasanya, di sekitaran sini juga disediakan penyewaan sepeda.

Gunakan kendaraan roda dua tersebut untuk berkeliling di tepian Sungai CIliwung. Akan semakin seru jika Anda ke sini bersama kawan karib atau pasangan.

Objek Wisata Terdekat dari Museum Bahari

Wisata Terdekat Museum Bahari
Image Credit: Twitter SwissBelhotelAirport

1. Museum Bank Indonesia

Salah satu wisata yang berada di dekat Museum Bahari Jakarta adalah Museum Bank Indonesia. Di sini, Anda akan disajikan sejarah perjalanan perbankan di Indonesia. Selepas mempelajari maritim, tak ada salahnya mampir ke sini untuk mengenal keadaan bank dari masa ke masa.

Dahulu, museum ini dinamakan De Javasche Bank dan didirikan pada tahun 1828. Sempat pula difungsikan sebagai rumah sakit umum Binnen Hospital. Tak hanya nilai bangunan dan koleksi yang kaya akan sejarah, tempat ini juga menghadirkan suasana estetis.

Di sini, pengunjung berkesempatan mempelajari informasi tentang mata uang tempo dulu, mulai dari negara Indonesia hingga skala internasional, kisah krisis moneter 1998, dan melihat perubahan logo Bank Indonesia dari waktu ke waktu.

2. Museum Fatahillah

Tempat ini cocok bagi Anda yang penasaran tentang sejarah Kota Jakarta dari masa ke masa, mulai dari zaman prasejarah hingga era setelah kemerdekaan. Dibangun sejak zaman penjajahan di bawah pengawasan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen tahun 1620.

Sebelum diresmikan sebagai museum, bangunan ini pernah anjlok hingga harus dilaksanakan pemugaran beberapa kali. Sempat pula menjadi Kantor Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Markas Komando Militer Kota.

3. Jembatan Kota Intan

Jembatan yang merupakan jembatan jungkit paling awal di Batavia dan sempat menjadi tempat persinggahan dan pelabuhan berbagai perahu di sekitaran Kalibesar. Dahulu di masa pendudukan VOC dikenal dengan nama Ophaalbrug.

Jembatan ini membentang di atas sungai dan dibangun menggunakan kayu. Ada dua sisi yang saling terhubung dengan kabel besi.

Museum Bahari Jakarta akan membawa Anda ke perjalanan maritim di setiap zaman, mulai dari era kerajaan sampai sekarang. Temukan keseruan berbalut edukasi di museum ini dan nikmati liburan Anda.